Minggu, 20 Januari 2013


Jalanan kota masih saja ramai hingga larut malam ini, dengan kendaraan yang terus berlalu lalang, juga dengan kehidupan manusia-manusia malam yang seakan tidak akan pernah mati.
Namun kini hatiku tak seramai jalanan di kota ini. Sunyi… Itulah yang sedang kurasakan. Bergelut dengan aktifitas dakwah yang menyita banyak perhatian, baik tenaga, harta, waktu dan sebagainya, seakan menempa diriku untuk terus belajar menjadi mujahid tangguh. Tapi kini, hatiku sedang dirundung kegalauan. Galau akan saudara-saudaraku dalam barisan dakwah yang katanya amanah, komitmen, bersungguh-sungguh namun seakan semua itu hanyalah teori-teori dalam pertemuan mingguan.

Hanya dibahas, ditanya-jawabkan untuk kemudian disimpan dalam catatan kecil atau buku agenda yang sudah lusuh hingga pekan depan mempertemukan mereka lagi, tanpa ada amal perbaikan yang lebih baik. Ya… mungkin itu yang ada dibenakku saat ini tentang su’udzhan-ku terhadap mereka, setelah seribu satu alasan untuk berhusnudzhan.

Kini kutermenung kembali akan hakikat dakwah ini. Sebenarnya apa yang kita cari dari dakwah? Dimanakah yang dinamakan konsep amal jama’i yang sering diceritakan indah? Apakah itu hanya pemanis cerita tentang dakwah belaka? Apakah ini yang disebut ukhuwah? Sering terlontarkannya kata-kata “afwan akh, ana gak bisa bantu banyak…
” atau sms yang berbunyi “afwan akh, ana gak bisa datang untuk syuro malam ini…
” atau kata-kata berawalan “afwan akh…” lainnya dengan seribu satu alasan yang membuat seorang akh tidak bisa hadir untuk sekedar merencanakan strategi-strategi dakwah kedepannya.

Kalau memang seperti itu hakikat dakwah maka cukup sudah “Izinkan aku untuk cuti dari dakwah ini”,
mungkin untuk seminggu, sebulan, setahun atau bahkan selamanya. Lebih baik aku konsenstrasi dengan studiku yang kini sedang berantakan, atau dengan impian-impianku yang belum terpenuhi, atau… dengan lebih memperhatikan ayah dan ibuku yang sudah semakin tua, toh tanpa aku pun dakwah tetap berjalan, bukan???

*****
Saudaraku…. Memang dalam dunia dakwah yang sedang kita geluti seperti sekarang ini, tidak jarang kita mengalami konflik atau permasalahan-permasalahan. 

Dari sekian permasalahan tersebut terkadang ada konflik-konflik yang timbul di kalangan internal aktivis dakwah sendiri.

Pernah suatu ketika dalam aktivitas sebuah barisan dakwah, ada seorang ikhwan yang mengutarakan sakit hatinya terhadap saudaranya yang tidak amanah dengan tugas dan tanggungjawab dakwahnya. Di lain waktu di sebuah lembaga dakwah kampus, seorang akhwat “minta cuti” lantaran sakit hatinya terhadap akhwat lain yang sering kali dengan seenaknya berlagak layaknya seorang bos dalam berdakwah.

Pernah pula suatu waktu seorang kawan bercerita tentang seorang ikhwan yang terdzalimi oleh saudara-saudaranya sesama aktifis dakwah.

Sebuah kisah nyata yang tak pantas untuk terulang namun penuh hikmah untuk diceritakan agar menjadi pelajaran bagi kita.

Ceritanya, di akhir masa kuliahnya sebut saja si X (ikhwan yang terdzalimi) hanya mampu menyelesaikan studinya dalam waktu yang terlalu lama, enam tahun. Sedangkan di lain sisi, teman-temannya sesama (yang katanya) aktifis dakwah lulus dalam waktu empat tahun.

Singkat cerita, ketika si X ditanya mengapa ia hanya mampu lulus dalam waktu enam tahun sedangkan teman-temannya lulus dalam waktu empat tahun?
Apa yang ia jawab? Ia menjawab “Aku lulus dalam waktu enam tahun karena aku harus bolos kuliah untuk mengerjakan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan oleh saudara-saudaraku yang lulus dalam waktu empat tahun.”

Subhanallah… di satu sisi kita merasa bangga dengan si X, dengan militansinya yang tinggi beliau rela untuk bolos dan mengulang mata kuliah demi terlaksananya roda dakwah agar terus berputar dengan mengakumulasikan tugas-tugas dakwah yang seharusnya dikerjakan teman-temannya. Namun di sisi lain kita pun merasa sedih… sedih dengan kader-kader dakwah (saudara-saudaranya Si X) yang dengan berbagai macam alasan duniawi rela meninggalkan tugas-tugas dakwah yang seharusnya mereka kerjakan.

*****
Saudaraku…. Semoga kisah tersebut tidak terulang kembali di masa kita dan masa setelah kita, cukuplah menjadi sebuah pelajaran berharga….
Semoga kisah tersebut membuat kita sadar, bahwa setiap aktifitas yang di dalamnya terdapat interaksi antar manusia, termasuk dakwah.
Kita tiada akan bisa mengelakkan diri dari komunikasi hati.
Ya, setiap aktifis dakwah adalah manusia-manusia yang memiliki hati yang tentu saja berbeda-beda. Ada aktifis yang hatinya kuat dengan berbagai macam tingkah laku aktifis lain yang dihadapkan kepadanya. Tapi jangan pula kita lupa bahwa tidak sedikit aktifis-aktifis yang tiada memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi tingkah polah aktifis dakwah lain yang kadang memang sarat dengan kekecewaan-kekecewaan yang sering kali berbuah pada timbulnya sakit hati. Dan kesemuanya itu adalah sebuah kewajaran sekaligus realita yang harus kita pahami dan kita terima.

Namun apakah engkau tahu wahai sahabat-sahabatku? Tahukah engkau bahwa seringkali kita melupakan hal itu? Seringkali kita memukul rata perlakuan kita kepada sahabat-sahabat kita sesama aktifis dakwah, dengan diri kita sebagai parameternya. Begitu mudahnya kita melontarkan kata-kata “afwan”, “maaf” atau kata-kata manis lainnya atas kelalaian-kelalaian yang kita lakukan, tanpa dibarengi dengan kesadaran bahwa sangat mungkin kelalaian yang kita lakukan itu ternyata menyakiti hati saudara kita. Dan bahkan sebagai pembenaran kita tambahkan alasan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang juga dapat melakukan kekeliruan.

Banyak orang bilang bahwa kata-kata “afwan”, “maaf”
dan sebagainya akan sangat tak ada artinya dan akan sia-sia jika kita terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama.

*****
Wahai sahabat-sahabatku… memang benar bahwasanya aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, sehingga tidak luput dari kelalaian, kesalahan dan lupa. Tapi di saat yang sama sadarkah kita bahwa kita sedang menghadapi sosok yang juga manusia biasa? bukan superman, bukan pula malaikat yang bisa menerima perlakuan seenaknya.

Sepertinya adalah sikap yang naif ketika kesadaran bahwa aktifis dakwah hanyalah manusia biasa, hanya ditempelkan pada diri kita sendiri. Seharusnya kesadaran bahwa aktifis dakwah adalah manusia biasa itu kita tujukan juga pada saudara kita sesama aktivis dakwah, bukan cuma kepada kita sendiri. Dengan begitu kita tidak bisa dengan seenaknya berbuat sesuatu yang dapat mengecewakan, membuat sakit hati, yang bisa jadi merupakan sebuah kezhaliman kepada saudara-saudara kita.

Saudaraku…adalah bijaksana bila kita selalu menempatkan diri kita pada diri orang lain dalam melakukan sesuatu, bukan sebaliknya. Sehingga semisal kita terlambat atau tidak bisa datang dalam sebuah aktivitas dakwah atau melakukan kelalaian yang lain, bukan hanya kata “afwan” yang terlontar dan pembenaran bahwa kita manusia biasa yang bisa terlambat atau lalai yang kita tujukan untuk saudara kita. Tapi sebaliknya kita harus dapat merasakan bagaimana seandainya kita yang menunggu keterlambatan itu? Atau bagaimana rasanya berjuang sendirian tanpa ada bantuan dari saudara-saudara kita? Sehingga dikemudian hari kita tidak lagi menyakiti hati bahkan menzhalimi saudara-saudara kita.

Sehingga kata-kata “Akhi… ukhti… Izinkan aku cuti dari dakwah ini” tidak terlontar dari mulut saudara-saudara kita sesama aktifis dakwah.

Semoga…
“Sadarilah sifat-sifatmu, niscaya Alloh membantumu dengansifat-sifat-Nya. Akuilah kehinaanmu, niscaya Alloh membantumu dengan kemuliaan-Nya. Akuilah ketidakberdayaanmu, niscaya Alloh membantumu dengan kekeuasaan-Nya. Akuilah kelemahanmu, niscaya Alloh membantumudengan kekuatan-Nya” (ibn athoillah)

By: Motivator 
Salurkan donasi anda ke: Bank BRISyari’ah 1001529028 a/n Rizka Hamami B Nurahman

Jika telah berdonasi harap konfirmasi melalui sms ke 0852 5277 4045
atau email ke pincoekindonesia@gmail.com

Yang Lewat E-Banking Emailkan Bukti Transfernay”
Dengan format: Infaq : nama pengirim – email – nomor hp – infaq – jumlah/ jenis donasi Zakat: nama pengirim – email – nomor hp – zakat- jumlah/jenis donasi shodaqoh: nama pengirim – email – hp – shodaqoh - jumlah/jenis donasi

*donasi dapat berupa uang ataupun barang (buku, mainan, atau keperluan lainnya)

Hi..hi..hi... Pakabar nih sahabat? :D
Semoga keberkahan dan rahmat.Nya selalu menaungi kita..aamiin
Sedikit mau berbagi nih,,
Saya lahir dan besar di Bumiayu, Sulung dari 3 bersaudara. Yups, anak PERTAMA.. :)
Banyak yang merasa jadi anak pertama itu bebannya berat, harus baik dalam segala hal agar bisa jadi panutan  bagi adik-adiknya. Hmmm,, awalnya sih saya juga merasa seperti itu. Pernah suatu waktu saya protes terhadap Mamah: "mah, kenapa sih aku harus ranking 1 terus?? harus jadi bintang kelas terus?? gak boleh kalau gak ranking,, aku kan capek mah. Adek aja gak ranking gak apa-apa. Tapi kalau aku yang gak ranking pasti dimarahin, gak boleh main selama liburan, harus belajar dan belajar". Kemudian mamah menjawab: "kalau hal baik yang sudah kamu dapatkan ini lebih susah dipertahankan dari pada diraihnya, kenapa harus melepaskannya begitu saja?? Kalau kakaknya saja yang sudah biasa ranking dan berprestasi adiknya belum tentu bisa sama, apalagi kalau kakaknya yang malas belajar, tidak pernah berprestasi bagaimana adiknya mau mencontoh atau menjadikan kakaknya panutan??? siapa lagi yang jadi panutan bagi adik kalau bukan kakaknya.. :D"

Hmmm,, sejenak merenung, benar juga ya. Kalau bukan saya, siapa lagi yang mau jadi suri teladan yang baik bagi adik saya dalam hal pendidikan, sedangkan orang tua lulus SD saja tidak. Tapi merekalah orang tua luar biasa, orang tua juara 1 di seluruh negara di dunia ini yang mengantarkan saya meraih segala prestasi dan keberhasilan dalam hal pendidikan, bahkan dalam setiap langkah hidup saya. Bukan harta yang mereka bekalkan untuk anak-anaknya, namun ilmu yang bermanfaat yang diharapkan dapat mengangkat harkat, derajat dan martabat orang tuanya. Hanya kebanggaan dan kemampuan berdiri di atas kaki sendirilah yang diinginkan orangtua saya dari kami (Ria, Dewi dan Agung). Agar kami mampu bertahan melawan kerasnya kehidupan yang penuh cobaan dan ujian. Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengaruniakan hamba orang tua dan adik-adik yang luar biasa.

Keluarga saya bukanlah dari kalangan orang berada/ kaya, namun semuanya serba berkecukupan. Sekolah di sekolah terkenal dan favorit rasanya seperti ingin memetik bintang di langit yang jaraknya berjuta kilometer, nyaris mirip dengan pungguk yang merindukan bulan. Tidak mudah untuk diwujudkan, namun saya BISA mewujudkannya sampai di perguruan tinggi. "Merdeka, merdeka, merdeka...", kata Bapak disetiap kali menelepon saya setelah mendengarkan berita kelulusan dari saya. Betapa senang beliau mendapati anak perempuannya kini telah bergelar sarjana. Suaranya yang parau di ujung telepon sana menandakan beliau tidak lagi muda, kini uban dikepalanya tumbuh subur mengalahkan dominasi si hitam. Hanya satu hal yang saya inginkan, melukis senyuman di wajah dan hati mereka, Mama dan bapak.

Alhamdulillah, sejak SD, SMP dan SMA saya selalu mendapatkan beasiswa. Baik dari pemerintah maupun yayasan karena prestasi yang saya raih. Dengan begitu saya berharap tidak terlalu membebani mamah dan bapak dengan biaya pendidikan. Masuk perguruan tinggi pun saya mendapatkan beasiswa BMU dari Dikti. Mulai dari pembelian formulir SNMPTN sampai pembayaran uang pangkal di perguruan tinggi. Begitu besar karunia.Nya. Tidak hanya sampai disana, sejak semester 3 sampai kelulusan saya di UPI pada bulan Desember 2011, saya masih mendapatkan beasiswa. Diantaranya:
  1. Beasiswa Prestasi Dikti 2008-2009
  2. PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) tahun 2009-2010
  3. Beasiswa Mandiri DPU DT 2011
  4. Beasiswa Berprestasi Pribadi Bilingual Boarding School 2011-2012
  5. PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) tahun 2011-2012
Kata siapa kuliah di perguruan tinggi terkenal bahkan yang berada di luar negeri itu susah, bahkan tidak mungkin? Kalau kita berusaha dengan maksimal, berdoa dan menyerahkan.Nya pada Tuhan akan hasilnya, saya yakin sahabat bisa meraih setiap impian yang diharapkan. Sudah banyak tersedia beasiswa bagi mereka yang tidak mampu dan berprestasi.
Nah, bagi sahabat-sahabat yang kurang mampu dan baru saja lulus SMA, MA, SMK dan yang sederajat lainnya, lulus S1 atau sudah PNS dan yang mau lanjut jadi Doktor, saya punya nih beberapa informasi tentang beasiswa baik untuk S1, S2 dan bahkan S3:
  1. Bidik Misi
  2. Beasiswa Rusia
  3. S2 CIO dan Komunikasi Kementerian Komunikasi dan Informatika
  4. PPA dan BBM
  5. All Dikti's Scholarship
  6. Beswan Djarum
  7. Super Semar
Semoga informasi tentang beasiswa ini bisa bermanfaat. Masih banyak lagi yang lainnya, kita sambung di lain kesempatan ya.. :D
Selamat BERPRESTASI dan menaklukan dunia di tangan kita.



Latar Belakang Berdirinya Pincoek Indonesia 

Kepedulian adalah suatu impian yang harus terwujudkan. Banyak hal akan membentuk suatu keadaan “gayung bersambut” ketika kepedulian diupayakan dan dibuktikan. Berbagai kekhawatiran sangat nampak di depan mata. Generasi yang tak tersentuh pendidikan, militansi kehidupan yang masih dipertanyakan, rendahnya kepercayaan diri anak anak negeri, kesenjangan finansial yang semakin bertebaran, adalah beberapa dari sekian banyak kekhawatiran yang mengundang afirmasi dan pengejawantahan untuk sebuah perubahan.

Sesungguhnya orang –orang mukmin itu adalah bersaudara (QS: Al hujurat : 10 )
Sahabat muslim , siapa yang akan peduli dengan keadaan ini?

Bermula dari berbagai kekhawatiran kondisi saudara-saudara muslim dan keinginan besar untuk memberikan satu arti untuk indonesia, khususnya anak anak muda indonesia. Pincoek Indonesia|Muslim Solidarity Center dibentuk dan didirikan pada tanggal 17 Ramadhan 2011 sebagai lembaga yang memberi sentuhan kepedulian akan anak-anak negeri di bidang  pendidikan, sosial, kemanusiaan, dan keagamaan. Disamping itu Lembaga ini berupaya semaksimal mungkin untuk menjadi wadah pemersatu anak-anak muda berkarya, pusat informasi, pusat penggalangan dana, serta wadah berkreativitas para pemuda/I untuk menyalurkan rasa kepeduliannya terhadap anak-anak negeri  di indonesia. Mendorong, Menguatkan dan menyiapkan mental anak-anak negeri generasi muda yang mudah menyerah pada keadaan untuk semangat belajar dan berkarya menyambut masa depan lebih baik. Berani Bercita-cita dan Bersungguh-sungguh menggapainya dengan memaksimalkan potensi yang Allah titipkan  untuk sebuah perubahan menjadi insan sholeh, cerdas, unggul dan kreatif untuk mnghadapi tantangan zaman yang memerlukan segala kondisi yang optimal baik jasadiyah, fikriyah maupun ruhiyah.

Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan ummat maka ia bukan termasuk ke dalam golongan ku ( HR. Bukhori ).”

Dan orang – orang yang beriman, lelaki dan perempuan sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain(Qs: At Taubah : 71 )

Bismilahirohmanirohim ; . Langkah Awal ini, kita persembahkan hanya untuk Allah Swt.

Sebagai langkah awal berkontribusi untuk anak anak Indonesia, Pincoek Indonesia mulai beraktivitas dengan mengadakan Training dan Pelatihan dengan konsep indoor dan outdoor yang menyenangkan bagi anak-anak, remaja hingga dewasa, dan berbagai kalangan yang 'concen' terhadap pendidikan dalam bentuk Training Motivasi, kajian psikologi perkembangan anak. Tak hanya berbentuk Training Motivasi, Pincoek indonesia mengadakan seminar seputar pendidikan anak muslim khsususnya anak usia dini dan remaja untuk siap menghadapi tantangan zaman.

Di luar bidang pendidikan dan pelatihan, Pincoek indonesia juga berusaha memposisikan diri dalam aktivitas da'wah dengan membentuk Majelis Ta’lim (Kampung Qur’an) untuk memberikan pembinaan dan Motivasi dekat dan faham akan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Tak hanya pembinaan dan pelatihan, Pincoek Indonesia berusaha dan berupaya pula memberi solusi terhadap permasalahan masyarakat indonesia dengan mengadakan program-program sosial kepedulian bagi masyarakat indonesia yang kurang mampu ( fakir miskin dan dhuafa), yang diawali dengan bakti sosial, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis.


Apa Itu Pincoek?

Pincoek adalah Wadah yang memfasilitasi anak-anak muda untuk berkarya dan  menginspirasi hidup ke arah yang lebih baik. Agar menjadi insan bermanfaat. Pincoek sendiri merupakan sebuah komunitas anak-anak muda yang peduli akan kemajuan negeri. Mendorong serta membantu masyarakat Indonesia untuk maju, menguatkan mental anak negeri yang mudah menyerah pada keadaan untuk dekat kepada sang pencipta, semangat belajar menyambut masa depan lebih baik. Berani Bercita-cita dan Bersungguh-sungguh menggapainya dengan memaksimalkan potensi yang Allah titipkan. ..lalu buktikan pada dunia kita mampu mewujudkannya. Berbagilah Sebanyak-banyak peka akan Lingkungan sekitar.

Apa Kepanjangan Dari Pincoek Indonesia

Pendidikan Insan Cerdas, Unggul Dan Kreatif

Artinya kehadiran Pincoek menginspirasi sebuah pendidikan menuju “peradaban hebat”. Pendidikan dan pelatihan yang diharapkan mampu menghantarkan peradaban dimana masyarakatnya menyadari dirinya sebagai manusia ciptaan Tuhan yang Unggul dan menyadari akan hakikat hidup untuk beribadah akan sang pencipta.

Kenali diri, Gapai prestasi - Dunia bahagia Akhirat Surga

Apa arti dan filosofis nama Pincoek?

Pincoek diambil dari kata pincuk berasal dari bahasa jawa, sunda yang artinya wadah/Tempat. Pincuk terbuat dari lembaran daun pisang, lembaran yang menyiratkan kita selalu memulai dengan lembaran baru. Daun pisang, daun yang sangat murah dan dapat diperoleh, seperti niat baik kita yang harus dengan murah dan mudah diproduksi dalam hati kita.

 Lembaran daun pisang itu kemudian dibentuk. Mengingatkan kita bahwa niat baik  harus dengan mudah dibentuk dan disesuaikan dengan situasi. Kemudian lembaran yang sudah dibentuk itu ditusuk dan dikunci dengan ‘biting’ atau lidi yang tajam. Menggambarkan bahwa niat baik kita harus dimantapkan dengan usaha keras, pemikiran yang tajam, seksama, hati-hati dan tegas.

Kemudian pincuk itu dituangkan berbagai macam makanan, panas, dingin, dsb. Namun pincuk itu tahan dengan segala kondisi. Mengingatkan bahwa kita harus tahan terhadap segala kondisi, ganjalan, halangan, dan kesulitan yang dihadapi.

Untuk menikmati makanan yang dipincuk itu kita memerlukan sendok, untuk itulah kita menyobek sebagian daun pincoek itu dan dilipat untuk mengambil makanan tersebut.  Mengingatkan bahwa niat, usaha, masih belum cukup butuh pengorbanan dari diri kita untuk mewujudkannya.

Posisi telapak tangan dalam memegang pincuk mengingatkan bahwa kita harus  melindungi pincuk agar tidak tumpah. Seperti sikap kita dalam menghadapi permasalahan dengan nrimo. Bentuk pincuk yang terbuka pada satu sisinya dan tertutup pada sisi lainnya mengingatkan untuk selalu terbuka terhadap segala ilmu, Nasihat dan saran yang baik dan ditutup untuk segala pengaruh buruk dan negatif lainnya.

Pincuk juga langsung dibuang oleh pemakannya ketika sudah selesai. Dan ini memberikan pelajaran bagi kita, siapkah kita untuk dilupakan ketika semuanya telah selesai. Dan siap untuk tidak mengingat  apa yang telah kita korbankan dan tidak berharap apa yang akan kita dapatkan.


Aktivitas Utama Pincoek Indonesia
  1. Peduli Kesehatan
  2. Peduli Pendidikan ( Edu Care )
  3. Peduli Bencana ( Rescue)
  4. Pincoek Mandiri ( Economic Care)


Produk Pincoek Indonesia
Produk-produk Pincoek Education  Centre:

  1. Young Future Leader
  2. Smart Parenting
  3.  Trauma Healing ( CSR Patnership)
  4. Coin A Change for indonesia ( GASIBU ) Gerakan seribuan.
  5. Youth QurĂ¡n Camp 
  6. PiGoeS (Pincoek Go To School)
  7. Take And Share Motivation Training
  8. Pincoek Preneur for Solidarity Center
  9. Children Behind Us
  10. Becak Muslim ( Berlibur Ceria Anak Muslim)
  11. Jaulah tokoh , etc                           

Sasaran Program
Anak-anak negeri dan remaja Indonesia khususnya yang memiliki keterbatasan ekonomi keluarga (yatim duafa dan anak anak jalanan).


Output Program

Menumbuhkan kesadaran akan anak negeri untuk mengenal diri nya dan mengenal tuhannya, dan memiliki jiwa tangguh dan sholeh dengan Akhlak Mulia.
Pertama, tersebutlah dalam sebuah cerita bahwa sepasang suami isteri dari sebuah desa berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Mereka tahu, bahwa mutu emas di tanah Arab itu sangat tinggi serta harganya pun relatif lebih murah. Untuk itu, mereka pun sepakat untuk membeli kalung dan seperangkat perhiasan lainnya. Sekembali ke kampungnya, mereka menyimpang emas-emas tersebut dalam sebuah laci yang indah dan dikunci rapat-rapat. Mereka melakukannya karena menganggap bahwa emas tersebut adalah sesuatu yang berharga, memiliki nilai besar (value) sehingga perlu dijaga dengan disimpan di tempat yang aman. Akhirnya, emas tersebut tidak pernah dipakai atau dinikmati sebagai perhiasan yang berharga karena kekhawatiran akan menurunkan nilai atau value dari emas yang dilikinya.
Kedua, sepasang suami isteri dari kampung lain melancong ke kota New York, kota metropolitan, kotanya dunia. Setiba di New York, mereka mencari tempat untuk menyewa mobil. Setelah deal selesai, sang penyewa meminta sebuah "map" (peta) kota New York. Mereka sadar, sebagai musafir yang asing (stranger traveler) mereka memerlukan peta agar tidak tersesat dalam perjalanan di kota yang baru bagi mereka. Sayangnya, selama perjalanan peta (map) tersebut hanya dipegang, minimal dilihat tapi tidak difahami secara serius petunjuk-petunjuknya. Akhirnya, mereka berjalan dan berjalan, namun tujuan yang ingin dicapainya tidak pernah dicapainya. Bahkan mereka berjalan ke arah yang sesat, terperangkap dalam sebuah rimba yang penuh binatan buas.
Ketiga, seorang pemuda kampung datang ke kota. Setiba di kota, sang pemuda diajak ke pantai oleh seorang temannya yang kebetulan penyelam. Sesampai di pantai tersebut, sang pemuda pertama kali menemukan kotoran-kotoran, sampah-sampah dan hanya pasir-pasir dan batu-batuan. Terbetiklah dalam benak pemuda kampung, betapa bodohnya pemuda kota yang selalu menyelam di lautan yang hanya penuh kotoran dan sampah tersebut. Sang pemuda kampung tidak sadar, betapa dalam lautan tersembunyi mutiara dan berbagai benda berharga lainnya. Sayangnya, sang pemuda hanya mampu melihat pinggiran lautan yang tidak terpelihara secara baik sehingga penuh dengan kotoran dan sampah dan tidak mampu menangkap berbagai rahasia keindahandi dalamnya.
Keempat, Seorang pensiunan hansip dari sebuah kampung terpencil pergi melancong ke kota London. Selama menjadi hansip, dia selalu taat dengan aturan-aturan yang selama ini dihafalnya, termasuk menghafal lafaz pancasila dan pembukaan uud 45-nya. Sebagai law obedient person, dia sudah bertekad untuk tidak melakukan lagi hal-hal lain yang di luar hafalannya. Setiba di London, sang hansip diperhadapkan kepada aturan-aturan baru yang selama ini belum ada di pemikirannya. Maka, ia menolak untuk mentaati kota London karena menurutnya, aturan-aturan tersebut tidak sesuai dengannya yang selama ini difahaminya.

Ikh
wafillah,
Kira-kira begitulah sekarang ini. Kita dalam berinteraksi dengan Al Qur'an berada pada posisi di atas, atau minimal berada pada salah satu kelompok manusia as sebagaimana digambarkan di atas:

Pertama, kita sadar bahwa Al Qur'an itu sangat berharga, memiliki nilai yang sangat tinggi. Al Qur'an itu kita hargai dan cintai. Namun pernghargaan dan kecintaan kita terhadap Al Qur'an, ibarat kecintaan dan penghargaan seorang haji terhadap emasnya. Kita membeli Al Qur'an yang paling fancy, yang paling mahal dan paling indah. Sayangnya, Al Qur'an hanya dijadikan perhiasan yang tersimpan di dalam laci, dikunci karena dianggap suci. Al Qur'an justeru karena keyakinan kesuciannya, jarang tersentuh. Paling tidak, hanya disentuh disaat akan membaca Yaasiin, karena mungkin seseorang di antara anggota keluarga ada yang sakit keras (sakarat) atau mungkin karena seseorang meninggal dunia.
Kedua, kita sadar bahwa kita semua adalah musafir menuju peristirahatan akhir. Kita berjalan menuju alam kekal. Dan di dalam perjalanan ini, kita membutuhkan peta (map), petunjuk jalan agar kita tidak tersesat. Dengan peta, kita minimal akan mudah menemukan jalan yang terefektif dan aman. Jika tidak, maka mungkin saja, kita tersesat ke dalam hutan rimba yang penuh srigala dan binatan buas lainnya. Dunia ini adalah ganas. Dunia ini penuh dengan perangkap dan tipu muslihat. Kalaulah dalam perjalanan ini, kita tidak cermat mencari jalan aman, sesuai dengan petunjuk jalan yang baku, maka kita dapat terjatuh dalam perangkap dan tipu muslihat duniawi. Sayangnya, peta atau petunjuk jalan tersebut, hanya dipegang dan tidak dipelajari, atau minimal dibaca tapi tidak difahami. Sehingga rasanya, perjalanan kita serba semrawut tidak terarah, karena peta yang kita miliki hanya justeru menjadi beban dalam perjalanan.

Ketiga, kurangnya keimanan dan keilmuan kita, menjadikan kita kadang tergesa-gesa mengambil sebuah kesimpulan keliru terhadap Al Qur'an. Arogansi manusia tidak jarang berkata, Al Qur;an itu hanya penuh dengan beban-beban ajaran yang menghambat kemajuan hidup atau kehidupan yang dinamis. Al Qur'an menghambat kemajuan dunia. Al Qur'an telah usang. Al Qur'an hanya akan semakin menghambat kehidupan yang modern. Ibarat pemuda kampungan yang diajakn jalan ke pinggir pantai pertama kali. Padahal, Al Qur'an adalah lautan yang tak akan pernah habis terselami. Di dalamnya tersimpan segala sesuatu yang berharga. Di dalamnya ada emas, mutiara dan berbagai barang mulia dengan valuenya yang sangat tinggi. Sayang otak kampungan menganggapnya justeru hanya “hambatan” kemajuan kehidupan yang dianggap modern.
Keempat, pada semua negeri ada aturan. Aturan adalah sebuah keniscayaan. Negeri tanpa aturan tak lebih dari sebuah negeri dari kumpulan hewan-hewan. Manusia yang hidup dalam sebuah negeri, tanpa ingin diatur oleh sebuah aturan, mereka tak lebih dari hewan-hewan yang berbentuk manusia. Kita hidup di negerinya Allah. Kita menumpang mencari makan, sedang melancong (musafir) dalam negeriNya. Maka, akankah diterima sebagai sebuah kewajaran, di saat kita mengatakan bahwa aturan Al Qur'an tak bisa diterima karena "aku" sendiri sudah punya aturan? Jika tetap berpendirian demikian, silahkan cari negeri, silahkan cari dunia, di mana anda dapat mengklaim sebagai dunia yang Tuhan tidak perlu campur tangan. Ciptakanlah dunia baru anda, yang di dalamnya Tuhan memang tidak perlu campur tangan. Selama anda masih ada di planet sekarang, planet yang anda merasa belum pernah menciptakannya sendiri, jangan coba-coba berprilaku “kuno” menganggap punya aturan-aturan sendiri. Karena di mana pun anda pergi, setiap pemilik negeri akan membuat aturannya sendiri. Dan dunia seluruhnya (al’aalamiin) adalah negeriNya Allah. Untuk itu, adalah sangat tidak masuk akal dan tidak realisits, jika anda menolak aturan Allah SWT.

Sahabat Muslim:  Lalu di manakah saya, anda dan kita semua? Masih masih-masing kita melakukan introspeksi. Buka akal dan hati, hancurkan keegoan dan kesombongan  yang selalu angkuh dan bersikap sebagai mana  “fir’aun  memungkir kehebatan mu'jizat dan kebesaran Allah.
Di tulis : Riziq ibnu Rahman

Sabtu, 10 November 2012

 

Sahabat, haruskah aku larut dan hanyut terbawa kegundahan, kesedihan, dan ratap tangis orang-orang yang tidak aku kenal. Kemudian mengkritisi, menghujjah, akhirnya bersimbah air mata hingga air mataku kering dan terevaporasi sendiri.
Kadang aku berpikir, untuk apa aku melakukan semua ini? Bukannya lebih baik aku duduk bersimpuh, berdzikir, dan memelas kepada sang khaliq. Menghitung setiap ruas jari dan butir-butir tasbih dengan tasbih, tahmid, takbir, serta tahlil.
Atau lewatkan setiap waktuku dengan ruku dan sujud ratusan rakaat. Lalui malam-malam hening dengan bermunajah hingga ujung malam, dan menatap setiap lembar mushaf seperti halnya Rabi’ah Al Adawiah beribadah dan beruzlah.
Kemudian kututup telingaku dari jerit tangis anak-anak yatim, janda-janda miskin di pelantaran toko, pinggiran selokan, dan tumpukan sampah. Toh mereka bukan siapa-siapa dan juga mereka tidak memberikan kontribusi apa-apa untukku.
Walau aku tahu untuk menghilangkan rasa laparnya mereka harus berdiri di setiap perempatan, menunjukan wajah memelas dan senyum suram, lalu berkerumun di tumpukan sampah, mengais makanan bersama anjing, unggas, dan tikus. Wajah mereka penuh debu, kotor bermandikan teriknya matahari. Begitulah anak-anak negeri, tertempa kejamnya hidup hingga masa depan bagi mereka hanya didapatkan dalam tidur-tidur lapar.
Entah generasi apa yang dipersiapkan bangsa kita, dengan pendidikan jalanan yang tak ubahnya rimba belantara. Sudahlah! mari kita kubur bersama harapan masa depan yang cerah dimasa sepuluh atau lima belas tahun kedepan, kemudian dengan bangga menyandang gelar bangsa budak pekerja rendahan. Kalau memang hanya generasi ini yang tersisa.
Sahabat apakah terpikir oleh kita mereka juga butuh pendidikan, butuh masa depan, dan butuh kesempatan. Seharusnya mereka berada di bangku-bangku sekolah untuk belajar, bermain, dan mengejar cita-cita, bukannya berkeliaran di jalanan. 
Hingga kemudian aku bertemu dengan sahabat-sahabat yang juga peduli akan hal ini, lalu kami merenungi langkah kedepan dan kami pun sepakat akan membawa mereka ke pulau impian. Kami mencoba mengajak kapal-kapal besar yang ada untuk mengangkut mereka, namun sayang tak satu pun peduli.
Maka tak ada pilihan lain biduk kecil pun kami buat bermodalkan kebesaran hati, beralaskan tauhid, kemudian kayu-kayu kami susun lalu direkat dengan ukhuwah fillah, palu determenasi kami dentamkan pada sahabat yang tak mengenal batas baik usia, warna, maupun bangsa..., kami usung kemelut ini sebagai masalah umat dan bahkan biduk kecil ini telah kami luncurkan dibahari yang luas dan lepas tak kenal tepi.  Biduk ini kini tengah menyauk dan mengais ikan besar dan kecil, pukatpun telah kami lemparkan, jejaring kian kami lebar-luaskan sejauh yang kami mampu.
Lalu kami berusaha seberangkan ke gugusan pulau Nusantara agar anak anak nusantara bisa kembali memegang pensilnya, menenteng tas ransel. Mengembalikan haknya sebagai insan, mengembalikan izzahnya sebagai Muslim, hingga was-was dan trauma itu terkikis pada kisi kisi hati mereka, pelan tapi pasti.
Namun perjalanan tidak semudah yang kami kira. Kendala, karang tajam serta aral yang merintang datang bertubi-tubi, namun tetap kami lalui walau beberapa kali kami hampir karam dan tenggelam. Akibatnya, satu persatu dari kami mulai berguguran, mereka pergi meninggalkan kami dengan membawa papan-papan penyusun biduk ini, hingga air pun mulai masuk memenuhi biduk kami. Sekuat tenaga kami mencoba menambal kebocoran-kebocoran yang ada walau peluh dan air mata ikut mewarnai usaha kami.
Sampai kemudian datang kapal-kapal besar mendekati biduk kecil kami, dan meminta sebagian besar dari awak kami untuk ikut dengan mereka. Akankah rekan-rekanku yang tersisa pergi kembali dengan membawa papan-papan biduk ini hingga kebocoran pun semakin parah lalu menenggelamkan biduk kecil ini. Jika itu terjadi biarlah kami yang tersisa terus mendayung biduk ini walau harus berlima, bertiga, atau pun aku seorang diri, meski akhirnya kami harus tenggelam dalam samudera angan bersama cita-cita yang kita bangun bersama.
Sahabat-sahabatku yang dirahmati Allah……
Kami sadar sahabat-sahabat adalah orang-orang pilihan yang tentunya sangat dibutuhkan dimana-mana, dan tentunya setiap jalan juang pasti baik. Namun sahabat, satu harapan kami janganlah sahabat meninggalkan biduk ini, jika sahabat merasa lelah atau tidak bisa konsentrasi dalam dua kendaraan sekaligus kami siap untuk membantu tugas sahabat. Akan tetapi, jangan telanjangi biduk ini dengan meninggalkannya yang kemudian menenggelamkan biduk impian kita bersama.
Kami tidak melarang sahabat untuk mengambil amanah lain yang sama-sama memiliki nilai positif disisi Allah. Karena sesunguhnya memegang beberapa amanah bukanlah suatu masalah malah menambah nilai kita disisi Allah dan mempermudah jalan da’wah kita. Oleh karena itu, kami mempersilahkan sahabat mengambil amanah-amanah yang di berikan namun jangan telanjangi biduk ini dengan meninggalkannya atau membandingkannya dengan kapal-kapal motor besar yang tentunya lebih nyaman dan menjanjikan.
Hanya perjuangan yang ditawarkan biduk ini, bukannya rasa nyaman atau ketenaran, karena hanya janji Allah akan taufik (pertolongan-Nya) yang menjadi penggerak biduk ini, bukan kekuatan materi apalagi dukungan kekuasaan. Biarlah Allah yang menentukan nasib biduk ini entah akan Ia tenggelamkan atau Ia mudahkan sampai tujuan, karena tugas kita hanyalah berjuang, berjuang, dan terus berjuang. Sampaikan nyata cita-cita  “HIidup Mulia Hingga Mati Syahid”

Ditulis oleh : Riziq Ibnu Rahman